KATINGAN | GAYA MEDAN.COM-Operasi pemberantasan narkoba yang dilakukan Satresnarkoba Polres Katingan, Kalimantan Tengah, berakhir tragis. Tiga anggota polisi gugur saat menggerebek terduga bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei. Hingga kini, polisi masih memburu pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap petugas.
Peristiwa bermula setelah polisi menerima informasi dari masyarakat terkait aktivitas peredaran sabu di desa tersebut. Setelah melakukan penyelidikan, sebanyak 12 personel diterjunkan untuk melakukan penggerebekan.
"Awalnya operasi berjalan sesuai rencana dan satu target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika petugas diduga mendapat perlawanan dari sejumlah orang di lokasi," demikian keterangan yang disampaikan pihak kepolisian.
Dalam insiden itu, Aipda Yudhi Perdana Putra gugur di lokasi. Sementara Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumariyanto sempat dilaporkan hilang usai bentrokan.
Tim gabungan dari kepolisian, Basarnas, dan unsur terkait kemudian melakukan pencarian intensif di sekitar lokasi hingga menyusuri Sungai Katingan. Pada 4 Juli 2026, jenazah Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan di Sungai Katingan. Sehari berselang, jenazah Aiptu Sumariyanto ditemukan sekitar delapan kilometer dari lokasi kejadian di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan.
"Operasi pencarian telah berakhir setelah seluruh korban ditemukan," ujar aparat.
Hingga kini, penyidik masih melakukan pendalaman untuk mengungkap secara utuh kronologi kejadian. Polisi juga mengumpulkan keterangan saksi, memeriksa barang bukti, serta menelusuri jaringan narkoba yang menjadi target operasi.
"Saat ini fokus kami adalah mengungkap pihak-pihak yang diduga melakukan perlawanan terhadap petugas dan memastikan seluruh proses penyidikan berjalan maksimal," tegas kepolisian.
Sampai saat ini, aparat belum mengumumkan tersangka baru terkait gugurnya tiga personel Satresnarkoba Polres Katingan. Penyidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh pelaku yang bertanggung jawab dalam tragedi berdarah tersebut.(GM)
